Sengaja menulis judul seperti itu, karena memang ada historynya. Dulu, beberapa tahun lalu Bakmi ini ada di Kedasih, kemudian kembali lagi ke Jogja, hingga akhirnya kena gempa, hancur dan bangkit lagi sekarang, atau mungkin ceritanya bisa terbalik karena saya tidak mengingat secara pasti.
Sekitar tahun 2002 di Kedasih V sebenarnya sudah ada Bakmi ini dan sudah memiliki pelanggan tersendiri, sampai-sampai sesama pedagang kuliner lain merasa ‘ngiri’, ya anggap wajarlah, walaupun melihat lokasi jauh dari jalan raya, tetapi sudah memiliki pasar tersendiri. Karena permasalahan yang sulit disebutkan sehingga tidak bisa berdagang disitu kembali. Hanya karena rasa struggle for live-nya masih tinggi sehingga mencoba bangkit kembali di Jogja/Sleman Jombor, dan karena sudah rejeki, disanapun langsung memiliki pelanggan juga.
Bencana alam memang siapa yang tahu, gempa Jogja Merapi menghancurkan bangunan tempat berdagang, sekaligus menghancurkan usahanya. Setelah dibangun kembali, tetapi tidak diperbolehkan menempati lagi dan jadi tempat usaha otomotif sekarang. Tempat yang di Kedasih dulu juga sudah ditempati oleh usaha franchise orang lain, dan kelihatannya tidak sebagus ketika ditempati Bakmi Jawa ini. Namanya kelihatan bisa jadi salah, karena usaha tersebut terbukti masih sampai sekarang. Sampai akhirnya berubah drastis, ‘Pak Dhe’ yang biasa berdagang ini berubah haluan ikut proyek, meninggalkan keahliannya memasak sementara.
Singkat cerita, mungkin karena berjodoh datanglah tawaran untuk kerjasama dari empunya Saung Teras untuk menempati tempat usahanya melanjutkan berdagang kuliner ala Pak Ndu sendiri (bakmi, nasi godog, dan nasi goreng). Bertepatan nisfu sa’ban kemarin diadakanlah tirakatan selamatan untuk memulai usaha ini. Karena rasa pertemanan dan tetangga, saya juga diundang untuk mengikuti selamatan. Ya hitung-hitung malam nisfu sa’ban banyak-banyak beribadah
.
lagi masak
Hari pertama buka, coba menyempatkan main ke tempat dagangnya (saung teras) malam hari (jam buka 16.00-22.00). Untuk ukuran hari pertama dan lokasi di dalam (Merak) sudah lumayan. Dari sisa-sisa pelanggan terdahulu dan baru tahu, akhirnya pada berdatangan karena sudah lama tidak merasakan Bakmi Jawa yang dulu pernah di Kedasih. Beberapa orang dari mailing list CikarangBaru juga sempat singgah untuk sekedar test mencicipi. Kalau mendengar komentar pembeli yang datang katanya enak, malah ada yang menanyakan puasa buka atau tidak. Maklum puasa, mungkin berharap buka sampai sahur kali. Sekali saya mencicipi masakannya, lumayan memang, dan mungkin karena saya berasal dari Jatim, merasa kurang pedas+asin, maklum yang masak orang Jogja jadi cenderung ke arah maniss….contoh gudeg itu khan manis juga…dan mungkin orang Jogja juga manis-manis. Sengaja dikasih Nama Bakmi Jawa Jombor, karena menyesuaikan tempat dulunya ketika di Sleman (daerah depan terminal), dan karena sulit dan tidak pratisnya menggunakan arang, jadinya dimasak menggunakan kompor gas, ya masak pakai minyak tanah..khan sulit didapat? Semoga saja usahanya bertambah maju Pak Ndu..Congratulations.
Dari : Febri Harsanto di http://febriharsanto.wordpress.com/2009/08/08/bakmi-jawa-is-back/
kapan-kapan boleh coba juga, secara lokasi dekat rumah.
Mampir dung ke Mie sehati jalan Jalan Beruang 3 dekat Masjid Assyfa atau SMA 1 Cipus.