Sebelum Anak Cucu Kita Bertanya Kemana Keindahan Alam Bekasi

Topics: , , ,

iStock_000002996209XSmallSampai saat ini belum ada sumber rujukan yang jelas, seberapa banyak sumbangan air yang mengalir di sungai Kabupaten Bekasi ini dari hasil produksi perusahaan-perusahaan dikawasan industri, informasi yang didapat masih simpang siur padahal fakta dilapangan sudah jelas, terjadinya kerusakan ekosistem akibat dari limbah yang berasal bukan dari perbuatan alam tetapi ada campur tangan manusia yang tidak perduli dengan alam terutama sekali dengan aliran air sungai, sungguh terlihat ironis dengan harapan yang pesimis untuk memperbaiki ekosistem yang telah rusak.

Ibaratnya jurus-jurus pamungkas untuk mempertahankan ekosistem sungai sudah dibuat melalui peraturan undang-undangan, nyatanya kurang mempan. Sudah jelas sekali untuk setiap usaha atau kegiatan yang pada dasarnya dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup, pada tahap awalnya perencanaannya diperlukan analisis sehingga pengendalian dampak negatif  yang ditimbulkan dan pengendalian dampak positifnya dapat dipersiapkan sedini mungkin, ini adalah untuk upaya penyadaran dan perencanaan pengelolaan sumberdaya secara bijaksana dalam pembangunan yang berkelanjutan dengan harapan untuk peningkatan kesejahteraan dan mutu hidup maka dari itu perlu dijaga keserasiannya.

Sungai pada hakikatnya adalah tempat keseimbangan ekosistem dan sungai juga bisa dipakai sebagai sarana hajat hidup masyarakat yang tertimpa krisis air bersih. Di Kabupaten Bekasi semenjak kehadiran industri-industri ada perusahaan yang mencoba-coba membudidayakan hobinya, ternyata bukan sejenis ikan atau tumbuhan yang dibudidayakan tetapi B3 yang sedang dibudidayakan, B3 bukanlah sahabat yang menguntungkan ekosistem sungai karena B3 adalah limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, hal ini jelas sekali seiring dengan meningkatnya pembangunan industri yang ada maka tidak menutup kemungkinan meningkatnya jumlah limbah yang dihasilkan termasuk yang berbahaya dan beracun. Limbah B3 ini merupakan perusak utama dalam keseimbangan habitat disungai, bisa diabayangkan jika kegiatan suatu usaha atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya atau beracun karena sifat atau konsentrasinya yang jumlahnya baik langsung ataupun tidak langsung dapat mencemarkan bahkan bisa merusak lingkungan hidup bahkan bisa membahayakan kesehatan untuk kelangsungan hidup manusia serta makhluk lain.

Untuk mengelola limbah B3 ini mempunyai tahapan-tahapan, seperti; harus mengurangi sifat bahaya dan racun limbah B3 sebelum dihasilkan dari suatu kegiatan, ketika limbah sudah dihasilkan maka dikumpulkan sebelum dikirim ketempat pengolahan atau tempat pemanfaatan atau bisa juga tempat penimbunan limbah B3 yang bersifat sementara dengan maksud tidak membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan hidup, ada juga limbah B3 yang dapat dimanfaatkan tetapi harus mempertimbangkan jika produk yang dihasilkan dapat digunakan dan juga aman bagi lingkungan dan kesehatan manusia, contohnya baterai handphone walaupun berbahaya bagi lingkungan tetapi kita bisa memakainya berulang-ulang karena akan menghemat pengeluaran walaupun dalam jangka pendek.

Kembali kemasalah sungai, bagaimanapun juga kelestarian ekosistem sungai harus kita selamatkan, karena kegiatan membuang limbah B3 ini sulit untuk kita ketahui dari perusahaan mana yang menjadi penyebabnya, karena hasil limbah B3 yang dibuang langsung kesungai tanpa pengolahan terlebih dahulu apalagi jika perusahaan yang nakal melakukan pengenceran untuk maksud menurunkan konsentrasi zat racun dan bahaya limbah B3, sebetulnya kita dapat dengan mudah mengenali sejauh mana sungai dibekasi sudah tercemar, karena ada beberapa kriteria yang dapat diidentifikasi sebagai limbah B3 jika ada perusahaan yang membuang limbahnya mengandung material (1). Mudah meledak (2). Mudah terbakar (3). Bersifat reaktif (4). Beracun (5). Menyebabkan Infeksi (6). Bersifat korosif, ini adalah jenis-jenis limbah B3 yang bisa berdampak langsung dengan masyarakat yang menggunakan air sungai sebagai kegiatan mandi ataupun mencuci dan akan sangat berbahaya apabila air tersebut dikonsumsi, dalam jangka waktu tertentu dan akan mengakibatkan penyimpangan genetik karena bisa berupa kecacatan pertumbuhan dan perkembangan baik itu terhadap janin ataupun semasa anak-anak, bisa pula terhadap orang dewasa yang terlanjur mengkonsumsi air tersebut.

Dalam hal pencemaran aliran sungai ini pun pihak instansi yang berwenang seperti dinas lingkungan hidup seperti kehabisan nafas setiap masalah limbah yang mengaliri lingkungan sungai dipertanyakan oleh masyarakat, hasilnya tidak ada jawaban yang dapat mencerahkan bahkan jawaban yang diberikan menjadi ambigu, maka tidak bisa disalahkan juga jika masyarakat suatu saat bertanya sambil menunjuk hidung dinas lingkungan hidup, sebelum hal ini menjadi proyek pihak ketiga yang ingin memperkeruh suasana ada baiknya dibuka kembali dialog dari Badan Pengeloa Lingkungan Hidup Daerah (BPLH) dengan dinas kesehatan beserta masyarakat sipil yang tercerahkan, untuk membahas skala prioritas yang diutamakan dalam rangka menyelamatkan ekosistem sungai yang juga sekaligus menjadi hajat hidup masyarakat yang menderita krisis air bersih, mungkin  action pertamanya dengan membuat sarana air bersih didaerah sekitar sungai, sarana air bersih itu dapat dipakai oleh kelompok masyarakat yang membutuhkan, selanjutnya diadakan kerjasamanya dengan perusahaan yang membuang limbah, hal ini perlu adanya semacam keterbukaan serta kebijaksanaan perusahaan dan perusahaan tersebut tidak perlu malu untuk menutupi keteledorannya, duduk masalah dalam perkara ini hanya bisa diselesaikan dengan jiwa yang besar dari berbagai pihak yang terkait, semua pihak tidak harus saling menyalahkan tetapi harus saling mengingatkan tentang keteledoran yang terjadi tidak akan terulang kembali.

Dapat dibayangkan jika dalam penyelasaian kerusakan yang telah terjadi dapat diselesaikan dengan jiwa yang besar, betapa indahnya dan betapa bertanggung jawabnya kita terhadap anak cucu kita karena telah membuat mereka untuk tidak menyalahkan kita, saat ini harga diri kita sedang kita pertaruhkan jika kita semua pada saat ini tidak perduli apa yang telah rusak, mungkinkah nanti anak cucu kita akan mengecap kita sebagai orang yang lemah dan tidak mau berpikir dan bertindak untuk mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>