Seperti halnya di perumahan-perumahan lain, di Cikarang Baru pun hampir tidak ada jalan yang luput dari hiasan polisi tidur. Mulai dari jalan-jalan yang berada di dalam cluster, jalan-jalan yang berada di luar atau jalan umum, bahkan hingga jalan utama/protokol, semua dijaga polisi tidur dengan gagahnya (gagah atau malas ya?) untuk menjaga pengendara kendaraan agar tidak memacu kendaraannya.
Coba kita telusuri, mulai dari gerbang Cikarang Baru depan sampai ke Ruko Anggrek, ada berapa banyak polisi tidur (poldur) yang terpasang?
Kita awali dari depan pos polisi Cikarang Baru hingga Bundaran Patung Kuda, jalan masih mulus lus tanpa satu pun poldur. Dari Bundaran, jika kita berbelok kanan, maka kita baru akan menemukan polisi tidur sehabis halte Primajasa sebelum bertemu dengan jalan dari arah gerbang depan Mattel, berupa tiga polisi tidur kecil-kecil. Sementara jika dari Bundaran kita lurus melewati depan Plaza JB, di sekitar situ kita sudah disuruh mencicipi dua buah poldur dengan jarak satu sama lain sekitar 20 meter. Selepas Plaza JB, di dekat bekas pos pemeriksaan mobil barang (pos kuli), ada tiga poldur kecil-kecil yang tidak begitu terasa pada saat kita melintasinya.
Dilanjutkan lagi menjelang pintu gerbang depan Mattel, ada dua poldur kecil yang menyambut kita. Lalu sebelum menghabiskan jalan tersebut dan bertemu dengan jalan raya depan kompleks Metro Boulevard, kita juga akan bertemu dengan tiga poldur kecil-kecil lagi (poldur di sekitar sini masih di bawah umur kali, he.he.he..).
Polisi tidur dewasa (karena ukurannya tidak kecil lagi) baru kita temukan di sekitar gerbang samping sekaligus tempat penyebrangan Mattel, berupa polisi tidur kembar!

Polisi Tidur kembar, menjaga area penyebrangan dari pacuan kendaraan

Rambu sekitar 10 meter di depan polisi tidur kembar (accross between two hills?…:) )
Di lokasi ini memang pada jam-jam tertentu akan sangat ramai dengan para penyeberang jalan dan kelihatannya juga security yang bertugas di situ akan mengalami kesulitan jika tidak dibantu dengan keberadaan poldur kembar ini. Ditambah lagi di depan putaran tidak jauh dari tempat penyeberangan tersebut, banyak sepeda motor yang menyeberang jalan dengan jalan menyerong melawan arus lalu lintas (Wah ini yang berbahaya! Kata mereka para pelawan arus ini, tempat tujuan mereka tidak jauh dari putaran jadi tidak apa-apa melawan arus juga. Kalau berputar secara resmi, harus di putaran selepas tikungan ujung Metro Boulevard. Kejauhan tuh!).
Selepas dari penyeberangan Mattel, sampai persimpangan RS Harapan Keluarga dan Wisma Mattel, tidak ada poldur. Selanjutnya di di depan ruko Roxy ada 2 buah poldur berjaga, satu sebelum belokan ke Pasar Roxy (di seberang Wisma Mattel) dan satu lagi hampir di ujung kompleks ruko Roxy sebelum jalan Kasuari VI/Pasimal. Di depan Pasimal ada satu, tepatnya di depan mesjid. Kemudian lepas dari Pasimal hingga ujung ruko Anggrek tidak kita temukan lagi poldur, kecuali kita lurus menuju Jababeka Multi Culture Center/Movieland, di tengah-tengah pertigaan ada polisi tidur yang panjang terbentang.
Sekarang coba kita bergerak ke arah sebaliknya dari dalam ke arah gerbang depan Cikarang Baru. Mulai dari ruko Puspa, melewati jembatan sampai putaran Pasimal, jalan masih bebas dari poldur. Nah, setelah putaran Pasimal (sebelum Kedasih IV) tersebut ada satu poldur yang menyuruh kita mengurangi kecepatan kendaraan kita. Lalu masih di sekitar situ, di seberangnya Pasimal (sebelum Kedasih VI), juga ada satu poldur. Di dekat Wisma Mattel, menjelang putaran ke arah ruko Roxy, ada satu pula poldur yang berjaga. Lepas dari situ, setelah melewati perempatan Wisma Mattel-RSHK, kita akan berjumpa lagi dengan poldur di penyeberangan Mattel. Kali ini poldurnya tidak kembar, namun hanya ada semata wayang.
Selanjutnya poldur terakhir di arah jalan keluar Cikarang Baru ada di depan kompleks Ruko Boulevard, sebelum pintu masuk Ruko tersebut. Jadi ada berapa banyak poldur yang harus kita lintasi jika kita masuk Cikarang Baru dan berapa jika kita keluar dari Cikarang Baru?
Cukup banyak bukan? Karena itu sebenarnya jalan utama perumahan ini.
CP, Juni 2010