Tulisan ini pernah saya munculkan di milis Cikarang Baru, dan juga saya taruh di blog saya, http://ceppi-prihadi.blogspot.com/2009/08/bendera-merah-putih.html, namun saya angkat kembali di sini dengan perubahan seperlunya untuk selalu mengingatkan kita akan perjuangan para pejuang kemerdekaan kita.
Tanggal 17 Agustus tinggal dua hari lagi, suasana perayaan kemerdekaan negara kita makin terasa. Meskipun sekarang berada di bulan Ramadhan di mana umat Islam sedang menunaikan ibadah puasa, yang membuat kita sudah tidak bisa melihat suasana keramaian perlombaan-perlombaan olahraga yang biasanya diselenggarakan di seluruh daerah seluruh pelosok negeri kita karena sudah dilakukan sebelumnya, tetap di mana-mana kita bisa melihat bendera merah putih yang sudah terpasang di mana-mana, warna merah dan putih dari berbagai umbul-umbul, spanduk, gapura, dan hiasan-hiasan lain menghiasai setiap sudut lingkungan kita.

Bendera Merah Putih (sumber gambar: www.indonesiapusaka.info)
Bendera merah putih! Ya, itulah bendera negara kita. Sederhana, hanya terdiri dari 2 warna, merah dan putih. Merahnya di atas dan putihnya di bawah. Buat sebagian orang, mungkin bendera kita terlalu sederhana, tidak keren dan kurang membanggakan.
Tapi anda, juga saya, tidak boleh beranggapan begitu!
Bendera itu ada dan tegak berdiri di tanah ibu pertiwi karena ada yang memperjuangkannya. Tidak terhitung berapa banyaknya tetes air mata, banjir keringat, tumpahan darah dan hilangnya nyawa rakyat dan bangsa Indonesia yang telah berkorban untuk menegakkan bendera merah putih itu.
Saya ingat waktu di SD dulu, ibu guru saya menerangkan bahwa bendera pusaka kita dijahit sendiri oleh istri pemimpin kita saat itu, yaitu Ibu Fatmawati Soekarno. Bendera itu memang berasal dari 2 kain yang berbeda warna, merah dan putih, dengan panjang 3 meter dan lebar 2 meter. (Ingat ya, itulah perbandingan ukuran panjang lebar bendera kita, 2 banding 3). Saya ingat juga bahwa bendera pusaka itu sewaktu zaman revolusi kemerdekaan, setelah proklamasi kemerdekaan dikumandangkan oleh kedua proklamator kita, dibawa-bawa oleh para pejuang kita agar tidak jatuh ke tangan tentara Belanda yang saat itu bermaksud menjajah kembali Indonesia. Sampai-sampai bendera pusaka itu pernah disembunyikan di pucuk pohon kelapa, cerita Ibu Oom (dibacanya O-om ya, maklum orang Sunda, bukan um) ibu guru sejarah saya saat itu.
Memang, bendera pusaka itu tidak boleh jatuh ke tangan musuh, karena itulah menjadi simbol kemerdekaan negara RI.
Lalu ada peristiwa heroik di mana para pejuang kita merasa kehormatan negara kita dilecehkan oleh bangsa lain, yaitu pada beberapa waktu setelah tentara Sekutu memasuki wilayah tanah air kita. Saat itu, di bulan September 1945, di sebuah hotel di Surabaya bernama Yamato, atau Hotel Orange (nama Belandanya) , berkibarlah bendera merah putih biru. Ya, merah putih biru! Berarti bendera Belanda!
”Apa-apaan orang Belanda mengibarkan seenaknya benderanya di wilayah kita!”
Mungkin itulah pikiran para pemuda dan pejuang kita saat melihat bendera merah putih biru dengan angkuhnya bertengger pada tiang di atas menara hotel tersebut. Akhirnya beberapa pemuda yang merasa tersinggung kehormatan bangsanya, dengan beraninya memprotes kepada tentara Sekutu dan bahkan ada seorang pemuda yang memanjat gedung hotel itu mencapai tiang di mana bendera itu dipasang. Dan dirobeknyalah bagian biru dari bendera itu, sehingga yang ada tinggal merah putihnya, berubah menjadi bendera RI.
Berkibarlah benderaku! Merah Putih. Sang Dwi Warna.
(Siapa berani menurunkan engkau serentak rakyatmu membela!)
Jadi, bendera kita itu sangat bersejarah, dan warna merah putih itu bukan asal memilihnya. Makanya kita tidak boleh sembarangan menggunakan, atau memodifikasi bendera itu (Ingat kan pernah kejadian ada grup band musik yang menampilkan logo grupnya di atas bendera merah putih? Bagaimana tanggapan anda?)
Warna merah dan putih itu sangat filosofis, yang secara sederhana berarti bahwa bangsa kita sangat menjunjung tinggi keberanian (merah) atas dasar kebenaran/kesucian (putih). Sehingga warnanya merah di atas putih. Bukan sebaliknya, putih di atas dan merah di bawah. Filosofi ini dipakai oleh para pendiri negara kita (founding fathers) sewaktu menentukan desain dan warna bendera yang akan dijadikan bendera negara.
Bahkan, Bung Karno sempat mengutarakan pemikirannya, seperti yang dituangkan dalam otobiografinya BK Penyambung Lidah Rakyat yang ditulis oleh Cindy Adams. Bahwa warna merah dan putih itu sudah menjadi budaya bangsa Indonesia sejak ratusan tahun yang lalu. Budaya pembuatan bubur merah bubur putih setiap ada peristiwa penting. Lalu adanya konsep getah (putih) dan getih (merah), cairan kehidupan, yang membuat tumbuhan, binatang dan manusia hidup. Penggambaran surya (matahari) dan chandra (bulan) pun dengan berupa kedua warna tersebut. Surya digambarkan sebagai warna merah dan chandra putih.
Pemaparan Mr. Muhammad Yamin bahkan lebih dahsyat lagi. Beliau menyatakan dalam bukunya yang berjudul ”6000 Tahun Sang Merah Putih”, bahwa warna merah dan putih sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia sejak zaman prasejarah dulu. Di gua-gua yang dihuni manusia zaman dulu, dapat ditemukan bukti-bukti yang menyatakan bahwa warna merah dan putih sudah digunakan sejak dulu dan menjadi warna penting dalam kehidupan masyarakat nenek moyang bangsa Indonesia. Di zaman kerajaan Nusantara, umbul-umbul berwarna merah dan putih tercatat digunakan pertama kali pada saat pemerintahan Raja Kertanegara di kerajaan Singosari.
Ada lagi, pada rumah-rumah dulu, sewaktu dibangun, pasti dipasangkan kain merah putih pada kayu suhunan atap rumah. Saya ingat di rumah tempat tinggal saya sewaktu kecil, karena sering main ke ruang atap rumah, terdapat bendera yang membungkus kayu suhunannya.

Pelaksanan pengibaran bendera sewaktu proklamasi (link gambar: di sini)
Jadi memang beralasan sekali mengapa merah dan putih ini menjadi warna bendera kebangsaan Indonesia, dan ditetapkan secara resmi pada tanggal 18 Agustus 1945 di dalam konstitusi kita.
Ironis sekali jika ada orang Indonesia baik perorangan atau kelompok masyarakat yang menolak mengibarkan bendera itu, melecehkan atau merusak bendera merah putih seakan-akan bendera itu tidak punya makna sama sekali. Mereka menghianati sejarah perjuangan bangsa dan negaranya sendiri.
Dirgahayu Indonesia
Sang Merah Putih Yang Perwira
Berkibarlah Slama-lamanya…. (CP, Aug 2010)
Salam
Salut buat presiden blogger cikarang.
Senang membaca tulisan yang menunjukkan masih adanya banayk teman-teman yang peduli dengan Indonesia tercinta ini.
Salam Sehati.
Tahun ini adalah tahun yang “nyaris sama kondisi agustusannya”. tahun 1945 dulu, proklamasi dibacakan juga pada bulan ramadhan.
Informasi ringan, sang merah putih sudah berkibar dikediaman saya mulai 1 agustus dan baru akan diturunkan 31 agustus, informasi yang tidak penting sebenarnya, tapi mungkin bisa sedikit menumbuhkan rasa nasionalisme yang sekarang rasanya sudah mulai berkurang.
salam
Kami hanya hapal 2 bait dari lagu ‘berkibarlah benderaku’ ciptaan ibu Sud, dan anak kami yang hampir berumur 3 tahun sudah hampir hapal 2 bait ini, kecuali 1 kata berubah dari ‘perwira’ menjadi ‘periwa’
Dan kata terakhir dari bait ke dua hilang: ‘slama-lamanya’ menjadi tidak ada karena begitu sampe ke baris “sang merah putih yang periwa…. berkibarlah….(kembali ke bait 1), karena entah kenapa begitu sampai “berkibarlah” maka itu sudah jadi bait 1 lagi buat dia, mungkin karena kata yang sama dan notasi yang mirip menjadikannya lagu itu Endless, muter terus… , kalo saya nyanyikan “slama-lamanya” maka saya dibilang “bukan begitu bapak….!” katanya
“Berkibarlah benderaku
Lambang suci gagah PERIWA
Di seluruh pantai Indonesia
Kau tetap pujaan bangsa
Siapa berani menurunkan engkau
Serentak rakyatmu membela
Sang merah putih yang PERIWA
Berkibarlah ……….. ….”
(kembali ke atas)