Cikarang Baru Kota Metropolis (2)

Topics: , , ,

Masih di rumah makan yang sama dengan yang telah disebutkan di seri sebelumnya, kami menemui dua anak di kanan kiri pintu, berjongkok bersiap bak ball boy pada permainan tenis lapangan, hanya saja dua anak ini bukan menunggu bola mati yang harus segera diambil dari lapangan, namun menunggu derma uang recehan dari pengunjung rumah makan tersebut.

Sangat memprihatinkan memperhatikan generasi penerus bangsa dididik sedemikian rendah, dididik menjadi peminta-minta, dan justru tidak ajari untuk merencanakan sesuatu, membuat sesuatu, menjual sesuatu… untuk bekal di kehidupan dewasa mereka nanti.

Lebih mengkhawatirkan lagi demi mengetahui bahwa mereka sadar akan apa yang mereka perbuat, sadar bahwa apa yang mereka lakukan semestinya adalah sesuatu yang memalukan, buktinya salah satu dari mereka langsung bersembunyi demi melihat saya membidikan kamera ke arah mereka.

Seseorang dengan kaos orange dan celana biru di balik folding gate sebuah apotek itu adalah seorang gadis belia teman si anak laki-laki yang sedang tiduran di bangku.

Ada banyak mereka di Cikarang Baru kita ini, terutama di sore dan malam hari saat pengunjung kawasan komersil sepanjang Kedasih Raya, Kasuari Raya, Anggrek Raya dan Puspa Raya sedang banyak-banyaknya.

Mereka berpenampilan seragam, boleh dikatakan demikian, terutama dengan atribut kerudung buat anak perempuan dan pici buat anak laki-laki. Disinyalir bahwa mereka di -organisir oleh seseorang atau sebuah kelompok tertentu.

Selain mereka, ada juga ibu-ibu dengan penampilan typical sama, menggendong atau membawa balita dan duduk di setiap pintu minimarket, mengguncang-guncang gelas plastik bekas minuman berisi uang logam meminta recehan kepada sesiapa yang baru keluar dari minimarket dan diduga membawa recehan kembalian belanja. Meminta-minta adalah sesuatu yang tidak baik, dan cara mereka mengguncang gelas penadah recehan juga bisa dibilang tidak sopan, lebih mirip kondektur bis yang menagih ongkos jalan pada penumpangnya, padahal kita tidak sedang naik bis.

Apa yang salah?

Saya, terus terang, mungkin juga lainnya, kurang suka akan keberadaan mereka, mungkin kita tidak akan pernah memberikan uang recehan pada mereka untuk membuat mereka ‘jera’, mungkin kita menghardik mereka atau sekedar mengingatkan mereka bahwa apa yang mereka perbuat adalah tidak baik, mengingatkan mereka anak-anak untuk sekolah dan mengingatkan para ibu itu untuk mencari pekerjaan lain yang lebih baik,….. mungkin juga kita akan menuliskan kehadiran mereka di sebuah media atau blog, berharap ada seseorang yang memiliki kekuasaan dan kemampuan lebih untuk turun tangan ‘membereskan’ mereka.

Tapi apakah semua itu cukup?

Cikarang Baru sedang membangun menuju sebuah kota Metropolis, pembangunan berlangsung cepat, roda ekonomi berputar sangat kencang, melaju meninggalkan mereka yang tidak dapat mengimbangi cepatnya pertumbuhan. Sesiapa yang tidak ikut naik kereta ini, atau berlari di sampingnya bak seekor kuda besi, maka akan tertinggal rapuh dan runtuh. Dan sesiapa yang ikut berpacu, ikut naik dalam kereta cepat ini, harus fokus terhadap arah dan laju kereta, lengah sedikit, maka mungkin akan terdampar di tempat tujuan yang salah. Perhatian kita semua habis pada upaya mengimbangi pembangunan ini, sedikit yang tersisa bahkan tidak ada untuk sekedar melihat semua mereka yang tertinggal.

Semoga saya salah.

3 thoughts on “Cikarang Baru Kota Metropolis (2)

  1. Serba salah menghadapi mereka ini…
    Memberikan uang salah…tidak memberikan uang pun kasihan.

    Adakah seseorang atau satu badan/organisasi yang mau menampung mereka…mengarahkan mereka agar anak-anak itu kembali bersekolah (kalau tidak sekolah), belajar agama, dan dididik ilmu ketrampilan agar mereka punya bekal untuk terjun ke masyarakat nanti pada waktunya?

    Pemkab atau pengelola kawasan mana peduli akan keberadaan mereka! Kalaupun peduli, konteksnya adalah tidak mau keberadaan mereka di kawasan yang dikelolanya. Merusak pemandangan!

  2. cikbar sudah menjadi lahan bisnis apa saja….dari yg di bolehkan agama sampai yang di larang oleh agaman…!!!
    saluutttt…!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>